loading...

Gejala dan Cara Mengobati Penyakit Keringat Darah Pada Sapi Bali

Posted by

Loading...
Apa Penyebab Jembrana Yang Menyerang Sapi Bali?
Penyakit ini disebabkan oleh virus jembrana dan bersifat ganas jika menjangkit Sapi Bali. Untuk penyebaran penyakit jembranan ini diperkirakan karena ada lalat, nyamuk, atau caplak yang menghisap darah sapi yang terjangkit Jembrana, lalu ditularkan ke sapi lainnya yang masih sehat. Menurut Ditjen Kesehatan Hewan yakni Fadjar Sumping Tjatur Rasa jika penyebaran penyakit ini disebabkan oleh parasit darah. 
Salah satu sebab beberapa daerah menolak sapi Bali adalah karena adanya penyakit khas yang awalnya memang hanya menyerang jenis sapi ini. Tetapi itu dulu karena sekarang semenjak pengawasan penyakit ternak semakin diperketat dan dengan tindakan karantina yang lebih bagus maka banyak daerah yang sudah sangat terbuka untuk menerima sapi bali ini bahkan dijadikan program untuk indukan khusus karena salah satu keunggulan sapi Bali betina adalah sifat reproduksinya yang sangat bagus bahkan mungkin paling bagus diantara jenis sapi lokal lain di Indonesia. Dan penyakit khusus yang menyerang sapi Bali ini dikenal dengan nama Jembrana. Kenapa disebut sebagai penyakit Jembrana, karena penyakit ini pertama kali ditemukan di daerah Jembrana, Bali. Penyakit Jembrana ini memang cukup membuat para peternak sapi was-was, pasalnya dapat menular dan mewabah.
Karena berbahayanya penularan penyakit jembrana ini maka sebaiknya agar tidak semakin menyebar penyakit jembrana ini, maka sebaiknya untuk memusnahkan virus penyebab penyakit, maka ternak sapi yang mati segera dikubur saja. Sisa pakan dan sisa kotoran sapi yang mati juga dibakar atau dimusnahkan agar membunuh benih penyakit yang ada didalamnya.
Awalnya penyakit Jembrana ini hanya menyerang jenis Sapi Bali saja, namun belakangan diketahui juga menyerang jenis sapi lainnya, seperti Sapi Ongole, Sapi Fresian dan juga Kerbau meskipun tidak menyebabkan kematian dalam waktu yang pendek. Ternak yang kerap terserang oleh penyakit Jembrana ini adalah berusia lebih dari 1 tahun, dan yang paling banyak mulai dari usia 4 tahun – 4 tahun.

Apa Saja Gejala dan ciri-ciri penyakit Jembrana?
  • Ternak sapi mengalami demam tinggi, suhu badannya bisa mencapai 38 – 42 derajat celcius
  • Pada bagian kelenjar limfe mengalami pembengkakan hebat
  • Pada bagian selaput lendir mulut sapi ada sebuah luka
  • Sapi yang terjangkit sering kali mengalami pendarahan pada kulit
  • Sapi akan mengalami penurunan nafsu makan sehingga berat badannya mengalami penurunan
  • Diare yang bercampur dengan darah
  • Jika tidak segera ditangani maka bisa menimbulkan kematian 
Bagaimana Cara penanggulangan penyakit Jembrana?

Untuk menanggulangi penyakit penyakit Jembrana ini ialah dengan upaya pencegahan dan juga pengobatan. Tindakan pencegahan dan pengobatan ini diupayakan agar nantinya tidak membuat penyakit menular dan akhirnya merugikan pada peternak sapi lain. Beberapa tindakan pencegahan penyakit jembrana ini bisa dilakukan sebagai berikut:

Karantina. Selama di karantina ini kesehatan sapi harus benar-benar diperhatikan, karena dikhawatirkan sapi tersebut membawa penyakit yang bisa menular ke jenis sapi lainnya nanti.

Isolasi Yakni dengan cara memisahkan sapi yang terjangki penyakit tersebut di kandang lain terpisah dengan sapi yang sehat. Selama ditenpat isolasi sapi harus menjalani perawatan dan pengobatan hingga sapi dinyatakan benar-benar sembuh

Sanitasi.Sanitasi ini dilakukan dengan cara membersihkan kandang dan juga lokasi disekitarnya. Kandang dan juga lokasi disekitarnya ini dibersihkan dari berbagai sampah atau limbah agar tidak dijadikan tempat berkembang biak serangga penghisap darah. Sampah atau limbah kotoran sapi ini nantinya bisa dimanfaatkan untuk kpmpos pertanian,dan hal ini nanti bisa mematikan telur maupun larva dari serangga pengisap darah.

Penyemprotan anti serangga. Untuk membunuh dan memusnahkan serangga penghisap ini maka disekitar kandang harus dilakukan penyemprotan anti serangga. Lakukan hal ini secara berkala dan sesuai dengan rekomendasi.

Memelihara sapi dengan baik. Menjaga kesehatan dari ternak sapi ini menjadi faktor penting agar terhindar dari berbagai penyakti, salah satunya penyakit Jembrana. Untuk menjaga kesehatan sapi ini yakni memliharanya dengan baik dan benar, seperti memberi pakan yag cukup dan menjaga kebersihan kandang.

Vaksinasi. Untuk mencegah penularan penyakit jembarana, maka perlu dilakukan vaksinasi secara rutin, agar nantinya sisitem kekebalan hewan ternak tetepa terjaga dengan baik dan sapi tidak terjangkit penyakit.

Penyemprotan desinfektan. Penyemprotan desinfektan ini disemprotkan di lokasi dan sekitar kandang dimana ada kasus kematian yang disebabkan penyakit Jembrana. Untuk mematikan secara menyeluruh, maka penyemprotan ini juga perlu dilakukan pada peralatan ternak yang digunakan.

Bagaimana Obat penyakit jembrana

Untuk pengobatan penyakit jembrana ini sebaiknya dilakukan oleh dokter hewan agar mendapatkan obat yang tepat dengan dosis yang sesuai dengan tingkat keparahan penyakit dan usia sapi

Pemberian antibiotik dan vitamin

Untuk pencegahan penyebaran penyakit jembrana, maka perlu diberikan antibiotik dan juga vitamin padasapi yang sehat agar tidak mudah terserang penyakit

Memusnahkan ternak yang mati

Agar tidak semkin menyebar penyakit jembrana ini, maka sebaiknya untuk memusnahkan virus penyebab penyakit, maka ternak sapi yang mati segera dikubur saja. Sisa pakan dan sisa kotoran sapi yang mati juga dibakar atau dimusnahkan agar membunuh benih penyakit yang ada didalamnya.

Berita Tentang Bahaya dan Kerugian Akibat Serangan Penyakit Jembrana
Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Siak mengatakan, virus jembrana atau parasit darah masih mengancam sapi Bali disana, karena obat untuk menyembuhkan secara total belum ada.

"Obat untuk penyembuhan secara total pada sapi Bali yang positif terinfeksi virus jembrana belum ada, hingga saat ini kita hanya bisa melakukan vaksinasi pada sapi untuk menghalangi penyebaran pada sapi-sapi yang lainnya," ujar Kepala Bidang Pengawasan dan Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Siak, Giatno saat di konfirmasi, Rabu (9/8).

Dia menyebutkan, dari Oktober 2016 hingga Juli 2017 ini, sedikitnya sudah 190 ekor sapi Bali yang mati akibat virus jembrana, angka itu mengalami kenaikan dari semulanya hanya sebanyak 135 ekor pada bulan Januari.

"Angka itu cuma yang terlaporkan saja, kami memprediksi masih banyak masyarakat yang tidak melaporkan kematian sapinya akibat jembrana," katanya.

Menurutnya, akhir-akhir ini persentase kematian sapi bali akibat virus jembrana mulai berkurang, dalam artian Januari - Juli hanya 55 ekor saja, dibandingkan periode Oktober 2016 hingga Januari 2017 yang membunuh ratusan ternak.

"Semuanya tergantung pada cuaca. Jika musim hujan, penyebaran virus semakin cepat dalam tubuh sapi tersebut. Sebab staminanya akan menurun, maka ketahanan tubuhnya secara otomatis juga menurun," terang dia.

Dia menambahkan, pihaknya terus mengupayakan memutus mata rantai virus jembrana yang telah menyebabkan sapi Bali di wilayah setempat mati mendadak.

"Selain pemberian vaksinasi, Dinas Peternakan dan perikanan juga terus lakukan pembersihan dan sterilisasi kandang, serta penyuluhan kepada masyarakat atau peternak," katanya kepada Antara.

Sejauh ini penyebaran atau penularan penyakit jembrana dari sapi ke sapi lainnya dibawa oleh serangga penghisap darah seperti lalat (lalat tapis) caplak dan nyamuk.

Masih kata Giatno, secara psikologis seorang peternak akan langsung menjual secara murah sapi-sapinya jika sudah ada kedapatan ada yang mati akibat virus jembrana. "Kita misalkan begini, jika dari 20 ekor sapinya, satu terdeteksi positif terinfeksi virus jembrana, 19 ekornya lagi mereka jual murah. Jadi cuman satu yang termonitor, yang lainnya apakah mati karena dipotong atau karena virus, tidak ada yang tahu," sebutnya lagi.

Saat ditanyakan mengapa sebuah virus jembrana begitu sulit diputus mata rantainya? Dia katakan, semakin lancarnya sebuah infrastruktur (jalan), penyebaran virus Jembrana semakin tidak terkendalikan. Sebab pedagang tidak mengalami kesulitan secara akses dalam membawanya ke daerah lain. Ditambah lagi wilayah tersebut tidak memiliki check poin hewan atau pos karantina.

Sumber : Antara dan sumber lainnya

Loading...
loading...

Blog, Updated at: 06:34:00

0 komentar: