Loading...

Sapi Belgian Blue, Keunggulan dan Potensi Untuk Peternak Lokal

Loading...
loading...

Keunggulan Sapi Belgian Blue dan Potensi Untuk Menjadi Sapi Penggemukkan Pada Peternak Lokal (Peternak Kecil)
Sapi Belgian Blue sendiri merupakan jenis sapi berbobot raksasa yang memiliki otot-otot berukuran besar. Hal tersebut tampak pada otot punggung, pinggang dan kaki. Beratnya bisa mencapai 1,5 ton dalam waktu dua tahun. Jumlah ini dua kali lipat dari berat sapi jenis Limosin yang biasanya berkisar 600-700 kg dalam waktu yang sama.
Sapi belgian blue sempat diisukan sebagai sapi yang diperoleh dengan persilangan sapi dan babi. Suatu klaim yang sangat ngawur dan tidak bertanggungjawab. Klaim bahwa sapi belgian blue hasil silangan dengan babi sudah banyak dimentahkan oleh para ahli peternakan dan ahli genetika. Jadi kesimpulannya sapi belgian blue silangan dengan babi adalah berita hoaks alias bohong. Bagaimana sebenarnya sejarah sapi yang memiliki keistimewaan pada ototnya yang berganda atau double muscle ini?

Pada tahun 1900, Pemerintah Belgia membeli sapi-sapi terbaik dan juara Eksposisi Pertanian Nasional dari daerah Hesbignon, Belgia Selatan. Hasil kawin silang sapi Limon Blue (hasil silangan Durham Shorthorn dengan Freisian Hosltein) dengan sapi-sapi juara dari Hesbignon menghasilkan sapi yang lebih baik dari Durham Shorthorn dari segi pertumbuhan otot ganda atau "double muscle".​

Sapi-sapi terbaik dengan ciri "muscular hyperthrophy" dari hasil kawin silang ini kemudian disilangkan dengan sapi-sapi betina terbaik dengan teknologi inseminasi buatan pada tahun 1947 oleh Profesor Hansett dari Universitas Liege, Belgia. Teknologi inseminasi buatan menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan Sapi Belgia karena dengan teknologi IB ini dapat dilakukan pembibitan sapi secara konsisten dan uniform.

Melalui proses hasil kawin silang, pembibitan selektif / "selective breeding" dan evolusi --- bukan anomali, bukan GMO, bukan rekayasa genetika atau "genetic enginering". Dari sejarahnya terlihat bahwa proses lahirnya jenis sapi Belgia tidak berbeda dengan sapi Brangus atau sapi peranakan Ongole. Perbedaannya dengan kawin silang di Indonesia, kegiatan kawin silang dilakukan secara acak, tanpa formula, tanpa pemahaman ilmu genetika dan tanpa keseragaman. Akibatnya justru terjadi penurunan mutu sapi lokal.

Setelah mengalami evolusi selama dua puluh tahun, pada International Cattle Exhibition di Hanover pada 1972, Belgia secara resmi memperkenalkan jenis sapi Belgian Blue/ Blanc-Bleu Belge sebagai jenis sapi baru. Pada tahun 1973, Belgia secara resmi membentuk Belgian Blue Herd Book atau organisasi yang mengawasi pengembangan sapi Belgia, khususnya dalam penentuan seleksi sapi terbaik, pembibitan dan pedigree. Pada tahun ini juga, Departemen Pertanian Belgia membentuk Centre for Cattle Breeding di Ciney yang khusus mempelajari dan memilih sapi Belgia jantan dan betina yang muda untuk disiapkan ke dalam program inseminasi buatan.

​Belgian Blue Herd Book dewasa ini menjadi rujukan utama bagi peternak, akademisi dan publik dalam mencari informasi tentang sapi Belgia. Belgian Blue Herd Book menentukan standar sapi Belgia yang antara lain mencakup standar kepala, leher, bahu, punggung, dada, paha, kaki, ekor, dan kemampuan berjalan.
Saat ini, melalui Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang di Bogor telah berhasil memproduksi tujuh sapi jenis Belgian Blue lewat dua teknologi di atas. Di antaranya adalah enam ekor sapi hasil inseminasi buatan semen beku sapi Belgian Blue dan satu ekor sapi Belgian Blue murni hasil transfer embrio.
Sapi Belgian blue memiliki organ dalam dan kulit 15% lebih kecil dibanding sapi biasa sehingga sapi ini tidak dapat banyak makan rumput. Hal ini disebabkan karena tidak cukup banyak ruang untuk menyimpan rumput dalam perut mereka. Oleh karena itu sapi ini hanya makan pakan olahan seperti jerami dan konsentrat yang terbuat dari biji-bijian dan kedelai. Meskipun demikian, pencernaan sapi ini sangat efektif. Sapi ini menghasilkan lebih banyak daging dan sedikit lemak. Hal ini terlihat dari tingginya persentase daging yang dihasilkan setelah dipotong dan dihilangkan tulangnya yang mencapai 82%. Ini berarti bahwa sapi ini menghasilkan daging lebih banyak dan menghasilkan sedikit limbah atau hasil samping (kotoran, kulit, organ dalam, dll). Ciri daging sapi Belgian blue ini adalah teksturnya yang terkenal empuk dengan sedikit lemak. Oleh karena itu harga daging sapi Belgian blue lebih mahal jika diekspor keluar negeri. Namun di Belgia, hampir semua daging sapi yang dijual adalah jenis Belgian blue. Hanya di tempat inilah saya bisa menikmati daging sapi kualitas super dengan harga standar. Kalau kata ahli genetik, jika Belgian Blue itu sapi jenis unggul yang bisa dijadikan alternatif sumber daging secara maksimal, tapi di dunia itu tidak dipakai. Yang dipakai itu Limosin dan Simental. Jadi Belgian Blue ini masih skala laboratorium, belum skala komersial. Kalau bisa skala komersial, kenapa tidak diterapkan di dunia.
Sapi Belgian Blue sendiri merupakan jenis sapi berbobot raksasa yang memiliki otot-otot berukuran besar. Hal tersebut tampak pada otot punggung, pinggang dan kaki. Beratnya bisa mencapai 1,5 ton dalam waktu dua tahun. Jumlah ini dua kali lipat dari berat sapi jenis Limosin yang biasanya berkisar 600-700 kg dalam waktu yang sama.Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Investasi, Syukur Iwantoro mengatakan pertumbuhan berat rata-rata sapi Belgian Cattle juga jauh lebih besar dibandingkan sapi jenis lainnya yang ada di Indonesia.

"Pertumbuhan per harinya itu bisa 1,7-2 kg per hari. Kalau sapi Indonesia kan 0,7 kg. Australia 1,5-1,6 kg per hari. Karkasnya juga 73%. Kalau Indonesia kan 54-55%, Australia 62%. Berarti tulangnya kecil, dagingnya banyak, karena kadar lemaknya juga rendah," tutur dia saat ditemui di BET Cipelang, Bogor, Minggu (5/3/2017). Syukur mengatakan, pemerintah memilih cara kawin silang bibit unggul dari negara lain yang terbukti baik kualitasnya ini karena prosesnya yang bisa lebih cepat. Namun tentunya diperlukan penanganan yang lebih baik, disertai pengetahuan dan teknologi yang maksimal agar produksinya bisa masif dan berkelanjutan.
Perkembangbiakan sapi Belgian blue umumnya dilakukan dengan inseminasi buatan karena untuk menyangga berat tubuhnya sendiri, kaki sapi ini sudah kepayahan. Sapi Belgian blue betina mengalami pubertas lebih awal dibanding sapi lainnya. Dia dapat hamil pertama pada usia 29-30 bulan. Periode kehamilan sapi Belgian blue juga relatif lebih singkat, yaitu sekitar 281-283 hari. Anak sapi yang dilahirkan rata-rata memiliki berat 44 kg untuk anak sapi betina dan 47 kg untuk anak sapi jantan. Karena besarnya anak sapi yang dilahirkan, jalan lahir yang sempit dan bentuk panggul sapi betina yang landai membuat sapi Belgian blue kesulitan untuk bisa melahirkan normal. Untuk mengurangi resiko kematian sapi karena pendarahan setelah melahirkan, para peternak umumnya melakukan operasi caesar terhadap sapi-sapi mereka.
"Ada cara yang lebih cepat, yaitu crossing dari negara-negara yang sudah berhasil menghasilkan bibit sapi unggul. Salah satunya adalah Belgian Blue, yang sudah stabil kualitasnya. Kita langsung ambil di sini untuk kita silangkan melalui teknologi inseminasi buatan. Mungkin 4 tahun kita sudah bisa menghasilkan Belgian Blue Indonesia," pungkasnya.

Pengembangan sapi Belgian Blue melalui skema transfer embrio (TE) dan inseminasi buatan (IB) oleh Kementerian Pertanian (Kementan) dinilai tidak bisa diaplikasikan pada peternak lokal. Sebab, jenis sapi yang dikembangbiakan di peternakan lokal merupakan sapi dengan bobot yang kecil.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Rochadi Tawaf mengatakan, di seluruh dunia, pengembangan sapi di tingkat peternak melalui mekanisme TE dan IB masih menggunakan sapi jenis Limosin dan Simental. Sedangkan dengan jenis Belgian Blue belum pernah dilakukan.

Kalau kata ahli genetik, jika Belgian Blue itu sapi jenis unggul yang bisa dijadikan alternatif sumber daging secara maksimal, tapi di dunia itu tidak dipakai. Yang dipakai itu Limosin dan Simental. Jadi Belgian Blue ini masih skala laboratorium, belum skala komersial. Kalau bisa skala komersial, kenapa tidak diterapkan di dunia.

Oleh sebab itu, lanjut dia, jika memang pengembangan jenis sapi tersebut dilakukan agar bisa diaplikasikan di peternak rakyat, maka harus memperhatikan sejumlah hal. Seperti soal pakan ternak yang dibutuhkan untuk sapi jenis Belgian Blue.

‎"Oleh sebab sekarang masih skala laboratorium. Sebab kalau diproduksi massal, apakah dia masuk dengan manajemen peternakan rakyat. Apakah peternakan rakyat bisa memberikan pakan seperti di laboratorium. Kita tahun kan pakan di kita kualitasnya rendah, beda dengan di barat. Kalau di barat rumputnya mengandung leguminosa yang tinggi, kita tidak. Karena curah hujan tinggi sehingga kualitas hijauannya rendah," kata dia.

Selain itu, kata Rochadi, dalam mengembangkan sektor peternakan di dalam negeri, pemerintah harus mengajak serta peternak lokal di dalamnya. Dengan demikian, pengembangan sektor peternakan bisa diterapkan di peternak.

"Jangan sampai dikasih ke rakyat mati semua sapinya. Karena memang sapi yang hitech, memerlukan sentuhan teknologi, pendekatan teknologi. Tidak bisa sapi hasil produk teknologi dipelihara rakyat jelata yang banyak diberikan protein di bawah 10 persen, dia harus 17 persen. Hal-hal seperti ini harus jadi pertimbangan," tandas dia.

Harga sperma sapi Belgian Blue mencapai Rp 450 ribu per suntikan. Angka ini jauh lebih mahal dibandingkan harga sperma sapi lokal yang di bawah Rp 10 ribu per suntikan.

"Ini kenapa kok membuat tender semahal itu, terlalu mahal kalau satu suntikan itu Rp 450 ribu. Sedangkan lokalan di bawah Rp 10 ribu per suntikan. Kita sudah punya pabrik semen (sperma) di tiga tempat, Ungaran, Singosari, Lembang, jual ke rakyat paling mahal Rp 10 ribu per suntikan," ujar dia.

Selain sperma, harga embrio sapi Belgian Blue juga dinilai terlalu mahal. Sebab, untuk satu embrio harganya mencapai Rp 9,9 juta.

"Embrio juga harganya Rp 9,9 juta. Itu beli 1.000 embrio, jadi Rp 9,9 miliar. Sekarang embrio ini mau ditanamkan ke sapi yang mana," kata dia.

Sumber itu juga mengungkapkan, dengan harga semahal itu, maka tidak bisa diterapkan oleh peternak lokal. Oleh sebab itu, program ini hanya akan membuang anggaran saja.
Untuk operasi caesar sapi di Belgia hanya membutuhkan biaya sekitar 70 euro. Harga ini cukup murah dibanding negara lain yang bisa menghabiskan biaya sebesar 110-170 euro untuk satu kali operasi caesar sapi. Operasi caesar ini biasa dilakukan di peternakan mereka sendiri dan waktu operasi berlangsung selama 40 menit, lebih efektif dan efisien dibanding melahirkan normal yang membutuhkan waktu 2-3 jam. Meskipun proses melahirkan sapi secara caesar ini hemat waktu, namun masih menjadi pekerjaan rumah para peneliti di sana untuk bisa menemukan hasil perkawinan silang sapi yang dapat melahirkan normal tanpa resiko tinggi. Karena bagaimanapun juga proses melahirkan sapi secara caesar ini membutuhkan antibiotik yang cukup banyak.
‎"Sapi belgian Blue itu akan dikembangkan di Indonesia. Tapi dengan harga segitu ke peternak ya terlalu mahal. Ini harus dicari tahu kenapa pemerintah pengadaannya senilai itu. Padahal ada yang harganya lebih murah. Ini buang-buang anggaran," jelas dia.

Sementara itu, ‎Kepala Badan Embrio Ternak (BET) Cipelang, Oloan Parlindungan mengakui harga sperma sapi Belgian Blue memang mencapai Rp 450 ribu.

"Sperma Belgian Blue impor harganya Rp 450 ribu. Kalau sperma produksi dalam negeri di pasaran hanya Rp 7.000," kata dia.

Meski mahal, embrio dan sperma sapi Belgian Blue yang ditengah dikembangkan akan menghasilkan sapi yang lebih baik dan bobot yang besar. Sebab bobot sapi tersebut bisa mencapai 1,5 ton-2 ton, jauh di atas sapi-sapi lokal yang berkisar 600 kg -800 kg.

Permintaann Bibit Belgian Blue
Ekspose keunggulan sapi jenis Belgian Blue (BB) mampu menarik minat kalangan dinas maupun peternak di daerah. Namun, mereka harus sabar menunggu hingga tahun 2021 agar bisa terealisasi dalam bentuk straw semen beku untuk Inseminasi Buatan (IB). Kepala Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, Oloan Parlindungan mengakui, pihaknya sudah banyak menerima permohonan permintaan untuk bisa mengembangbiakan Belgian Blue di daerah. Misalnya, dari Pemda Sulawesi Tengah, Jawa Timur, Sumatera Barat dan lain sebagainya.

Sayangnya, mengacu kepada Peraturan Pemerintah Nomor 48 tahun 2011 tentang Sumberdaya Genetik Hewan dan Perbibitan Ternak, tiap rumpun baru (ras baru) yang masuk ke Indonesia perlu mendapatkan rekomendasi dari Komisi Bibit Ternak. Karena pengembangan BB harus dilakukan dalam kondisi tertutup (close breeding) dan belum melibatkan masyarakat peternak. "Jadi sebelum sapi jenis Belgian Blue ini bisa dilepas ke peternak, kami bersama pakar dari akademisi dan Puslitbang Peternakan harus melakukan pengkajian,” katanya.

Pada tahap awal, lokasi pengembangan BB masih berada di UPT Kementerian Pertanian. Yakni, BBPTU-HPT Baturraden (250 ekor), BET Cipelang (179 ekor), BPTU HPT Padang Mangatas (185 ekor), BPTU HPT Sembawa (237 ekor), BBPP Batu Malang (30 ekor), STPP Malang (17 ekor), BBPPKH Cinagara (14 ekor), STPP Bogor (7ekor), STPP Magelang (25 ekor), Loka Penelitian Sapi Potong Grati (23 ekor) hingga Balitnak Ciawi (44 ekor).

Sumber:
http://www.detik.com
http://www.liputan6.com
https://ternakdanburung.blogspot.com/2017/02/keunggulan-sapi-jenis-belgian-blue.html
sumber-sumber lainnya

Loading...
loading...

Blog, Updated at: 19:41:00