Macam-macam Jenis Burung Elang, Ciri-ciri Morfologi Dan Habitatnya

loading...
Mengenal Jenis Elang Di Pulau Jawa, Terbesar Hingga Terkecil dan Karakter Khasnya
Elang jawa adalah salah satu spesies elang berukuran sedang dari keluarga Accipitridae dan genus Nisaetus yang endemik di Pulau Jawa. Satwa ini dianggap identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Dan sejak 1992, burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia Wikipedia
Nama ilmiah: Nisaetus bartelsi
Kingdom: Animalia
Tingkatan takson: Spesies
Spesies: N. bartelsi
Klasifikasi lebih tinggi: Nisaetus
Famili: Accipitridae

Elang Jawa senang hidup di pohon yang tinggi menjulang yang dapat digunakan untuk mengincar mangsa ataupun sebagai sarang. Umumnya sarang ditemukan di pohon yang tumbuh di lereng dengan kemiringan sedang sampai curam dengan dasar lembah memiliki anak sungai. Hal ini berhubungan dengan kesempatan memperoleh mangsa dan memelihara keselamatan anak.

Dari pengamatan, Elang Jawa bertubuh sedang sampai besar, langsing, dengan panjang tubuh sekitar 50-70 cm). Namun, bentangan sayapnya, bisa berukuran dua kali tubuh burung ini, sekitar 110-130 cm.

Hewan ini memangsa pelbagai jenis reptil, burung-burung sejenis walik, punai, dan ayam kampung. Mamalia berukuran kecil seperti tupai, bajing, kalong, musang, sampai dengan anak monyet juga dimangsa.

Burung Elang seringkali dijadikan simbol kegagahan. Itu antara lain karena Burung Elang adalah satu - satunya burung yang mampu terbang lebih tinggi dari burung - burung lainnya. Burung Elang ini adalah termasuk burung pemangsa yang keberadaannya terdapat di banyak tempat di Bumi ini.

Elang merupakan salah satu dari hewan yang terdapat di seluruh Indonesia. Dalam Bahasa inggris, eagle atau elang merujuk pada burung pemangsa berukuran besar dari suku Accipitridae terutama genus Aquila. Sementara itu burung-burung pemangsa yang lebih kecil dalam Daftar Burung Indonesia nomor 2 disebut Elang-alap. Wikipedia

Ada lebih dari 60 spesies yang berbeda dari elang di dunia dengan hanya 2 dari spesies elang yang ditemukan di Amerika Serikat dan Kanada. Namun, salah satu spesies elang adalah salah satu spesies yang paling umum dari elang, elang botak. Meskipun nama itu elang botak memiliki kepala yang penuh bulu tapi warna putih terang mereka membuat elang botak yang sangat tampil beda. Elang emas adalah satu-satunya spesies lain elang ditemukan di benua Amerika.

Ukuran elang tergantung pada spesies elang. Elang dapat berbagai ukuran dari 40cm sampai lebih 1m tingginya. Rentang sayap elang cenderung setidaknya dua kali lipat panjang tubuh elang. Elang memiliki bulu di ujung sayap mereka yang menggerakan elang ke atas dan ke bawah untuk membantu mereka ketika terbang.

Elang adalah predator dominan dan dikenal sebagai burung pemangsa. Elang makan dari burung kecil juga kelelawar di langit dan mamalia kecil dan ikan di tanah. Elang terkenal karena memiliki penglihatan yang luar biasa. Penglihatan elang begitu baik sehingga elang ternyata bisa melihat tikus di lapangan ketika elang masih tinggi di langit.

Elang digunakan sebagai simbol dalam banyak bendera nasional dan emblem di seluruh dunia, dengan elang diyakini menyerupai listrik atau nasib baik. Elang adalah predator dominan dan kejam di lingkungan mereka dan karena itu elang memiliki sedikit predator alami sendiri. Elang yang paling mungkin untuk diburu oleh hewan yang lebih kecil ketika mereka masih anak-anak atau masih muda dan belum berpengalaman sehingga mereka cukup rentan.

Elang betina membangun sarang mereka di puncak pohon yang tinggi atau di tebing yang tinggi di mana mereka berada di tempat paling aman mereka. Ibu elang cenderung untuk meletakkan dua telur, yang menetas setelah sekitar satu bulan. Namun Pada banyak spesies elang, salah satu anak elang secara alami sedikit lebih kuat dari betina yang lain, dengan betina yang lebih kuat umumnya membu.nuh saudara yang lemah.

Elang telah beradaptasi dengan baik dengan gaya hidup predator dominan. Elang tidak hanya memiliki penglihatan yang luar biasa dan akan melambung sangat cepat melalui udara dengan badan yang besar seperti itu, tapi elang juga telah menunjukkan paruh dan kaki lincah yang dikenal sebagai cakar. Paruh elang-benar dirancang untuk merobek daging dari tulang, dan cakar elang begitu kuat sehingga elang mampu membawa mangsa di kaki itu sampai mencapai tempat yang aman untuk memakannya.

burung elang

Fakta kaki elang

  • Elang telah sangat khusus beradaptasi dengan kaki besar, yang dikenal sebagai cakar.
  • Cakar elang yang kuat dan kokoh dan memungkinkan elang untuk menangkap mangsanya di tanah atau di air ketika elang masih di udara.
  • Cakar elang yang dirancang untuk membawa mangsa melalui udara dan mereka cukup kuat untuk memegang ikan yang beratnya lebih dari elang.
  • Kaki elang memiliki empat jari kaki yang kuat, dan pada ujung jari kaki besar ini, cakar melengkung yang memungkinkan elang untuk mengait mangsanya.
  • Cakar elang bayi sangat pendek jika dibandingkan dengan cakar seekor elang dewasa, dan dibutuhkan beberapa tahun untuk kaki elang bayi sepenuhnya tumbuh.

kaki elang

Fakta Gigi Elang

  • Elang memiliki paruh yang sangat tajam dan runcing yang sering digunakan untuk elang menangkap mangsa.
  • Elang menggunakan paruhnya yang tajam dengan menggigit hewan di bawah tengkorak mereka sehingga membu.nuh mereka sebelum menelannya utuh.
  • Paruh elang sangat kuat dan tangguh, meskipun mereka jarang membawa mangsa mereka di paruh mereka untuk jarak yang besar.
  • Paruh elang terbuat dari keratin dan karena itu berkembang terus-menerus, seperti rambut dan kuku dari manusia.
  • Paruh elang hampir sepanjang kepala elang dan elang menggunakan ujung bengkok paruh untuk membelah mangsa yang terlalu besar untuk ditelan seluruhnya.
Salah satu tempat yang populer bagi Burung Elang adalah Pulau Jawa. Dan berikut ini 16 jenis Burung Elang Di Pulau Jawa yang sebaiknya Anda ketahui.

1. Elang Hitam ( Ictinaetus malayensis / Indiana Black Eagle) Temnick, 1822
Burung berukuran sedang ( 70cm ), namun tampak besar ketika terbang. Cukup dominan dalam hal bertarung sehingga memiliki survival rate yang cukup tinggi. Tersebar di ketinggian 300 - 2000mdpl. Cukup umum dijumpai di hutan primer hingga perkebunan, terkadang suka nyelonong masuk ke desa pinggir hutan. Sesuai namanya, elang ini berwarna hitam kelam kecuali pada individu muda yang memiliki corak menyerupai Elang Brontok.

Elang hitam adalah sejenis burung pemangsa dari suku Accipitridae, dan satu-satunya anggota genus Ictinaetus. Dinamai demikian karena warna bulunya yang seluruhnya berwarna hitam. Meski ada pula beberapa jenis elang yang lain yang juga berwarna hitam. Wikipedia
Nama ilmiah: Ictinaetus malaiensis
Tingkatan takson: Spesies
Spesies: I. malayensis
Klasifikasi lebih tinggi: Ictinaetus
Kingdom: Animalia

Ciri Khas
Sayap yang menjari khas, kokoh dan lebar membentang, terlihat sangat besar dengan ekor yang panjang. Dewasa: Warna bulu hitam pekat, kecuali pada ekor yang memilki corak agak kecoklatan. Remaja: Dada bercorak garis seperti Elang Brontok fase terang. Sera kuning, kaki kuning, jari kelingking pendek tidak proporsional.

Kebiasaan
Terbang soaring atau gliding sambil terkadang mengeluarkan suara seperti Elang - ular Bido. Cukup aktif di pagi sampai siang hari. Terkadang terbang rendah di atas tajuk mencari mangsa berupa tikus, kadal, tupai, ayam, burung kecil dan hewan - hewan kecil lainnya. 

Perburuan elang hitam terus terjadi di Sumatera. Pemangsa daging bergelar perampok sangkar ini, sudah jarang tampak terbang bebas di alam. Mereka lebih banyak dalam sangkar sempit, dengan mata liar sesaat lalu redup, mungkin menyadari hidup dalam jeruji besi.

Baru-baru ini, Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Sumatera Utara (BKSDA Sumut), melepasliarkan elang hitam hasil sitaan dari warga Sibolangit, Deli Serdang.

Hotmuli Sianturi, Kepala BBKSDA Sumut,  mengatakan, pelepasliaran elang hitam di Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit ini bentuk komitmen perlindungan elang dari kepunahan. Elang yang dilepasliarkan sudah bertahun tahun dipelihara dalam kandang sempit.

Dia membentuk tim merehabilitasi dan pelatihan elang hitam agar lepasliar kembali, dan mampu bersaing di alam bebas. Penyiapan area pelatihan memunculkan sifat liar elang ini, dilakukan di TWA Sibolangit, yang memiliki kontur hutan sangat cocok. “Itu sangat perlu agar satwa mampu bertahan hidup,” katanya.

Catatan BKSDA Sumut, dalam dua bulan terakhir tiga kali penyitaan elang hitam ini dari berbagai lokasi di Sumut. Ketidaktahuan pemilik, jadi alasan memelihara satwa ini.

Rudianto Sembiring, Executive Director of Indonesian Species Conservation Program (ISCP), mengatakan, telah memantau elang  pakai camera trap di sejumlah titik di hutan Sibolangit, Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), dan Barumun.

Pantauan sejak 2013-Juni 2016, ada 30-50 elang terpantau camera trap. Satwa ini memiliki keunikan, hanya bertelur setahun satu. Perburuan tinggi, habitat rusak, menjadi faktor utama populasi elang hitam menurun.

“Mengejutkan lagi, ada juga menganggap memakan elang hitam membuat stamina kuat. Itu mitos,” ucap Rudi.

Dari pengamatan, katanya, elang hitam masih terpantau di hutan Bukit Barisan, Taman Hutan Rakyat Sibolangit dan TNGL Langkat.

Elang tampak terbang  sendiri atau berdua dengan pasangan pada ketinggian 800 meter dari permukaan laut. Satwa ini bisa turun rendah antara 400-500 meter. Elang hitam hidup di pegunungan, hutan dataran rendah dengan ketinggian antara 1.400-3.000 mdpl.

Dia berharap, ada hukuman maksimal bagi pemburu, memelihara dan memperdagangkan elang ini. Karena amatan mereka di peradilan, hukuman kurang dua tahun dan denda kurang Rp10 juta, seperti di Pengadilan Negeri Stabat, Dairi, Mandailing Natal, Sibolga dan Pangururan.  “Hukuman harus maksimal.”

2. Elang Ular - Bido ( Spilornis cheela / Crested Sherpent - eagle ) Latham, 1790
Burung berukuran sedang ( 50 - 60cm ), berisik dan sangat mudah dijumpai di semua ketinggian. Jenis burung yang adaptif, bisa ditemui di berbagai macam habitat mulai dari hutan primer, hutan skunder, perkebunan, hutan pantai, savanna dan terkadang sampai di perkampungan penduduk. Walaupun namanya Elang - ular, tapi tidak selalu memakan ular.

Elang-ular bido adalah sejenis elang besar yang menyebar luas di Asia, mulai dari India di barat, Nepal, Srilanka, terus ke timur hingga Cina, ke selatan melintasi Asia Tenggara, Semenanjung Malaya, kepulauan Sunda Besar, hingga ke Palawan di Filipina. Elang ini merupakan anggota suku Accipitridae. Wikipedia
Nama ilmiah: Spilornis cheela
Kelas: Aves
Massa: 0,42 – 1,8 kg Encyclopedia of Life
Panjang: 55 – 76 cm Encyclopedia of Life
Spesies: S. cheela
Status konservasi: Risiko Rendah (Stabil) Encyclopedia of Life


Ciri Khas
Sayap yang membusur membentuk huruf “C”, membulat dan memilki garis tebal berwarna putih di tepi sayap. Ekor pendek terkadang mengipas. Bagian mata tidak berbulu berwarna kuning. Warna bulu dominan coklat tua hingga hitam, tutul - tutul putih di dada dan perut.

Kebiasaan
Terbang soaring atau gliding di ketinggian atau terbang gerilya diantara tajuk untuk berburu. Sangat suka bersuara, ribut dengan siulan “Kli - kliuw” atau “kliiw”. Memangsa ular, tikus, kadal, bajing dan hewan - hewan kecil lainnya. 

Elang ular-bido (Spilornis cheela) sama seperti keluarga burung pemangsa Accipitridae lainnya, adalah salah satu spesies puncak pada rantai makanan di dalam sebuah kawasan hutan. Keluarga ini merupakan satwa dilindungi Undang-Undang No tahun 1990 yang dipertegas dalam PP No 7 tahun 1999. Kita tidak boleh memelihara jenis ini, atau siap-siap saja diancam hukuman maksimal 5 tahun jika tetap nekad memelihara.

Kehadiran mereka menunjukkan tersedianya keragaman dan kelimpahan spesies pakannya, yang juga berarti menunjukkan keragaman jenis tanaman, ketersediaan air, dan kondisi suatu habitat yang dapat menopang hidup beragam spesies pakan tersebut di dalam sebuah kawasan.  Jadi, kehadiran spesies seperti Elang ular-bido bisa dijadikan penanda masih baiknya kondisi keragaman hayati di suatu kawasan.  Di Banyumas, Elang ular-bido masih terdapat di seluruh sisi dari lereng gunung Slamet dan juga tercatat di sekitar kawasan hutan perbukitan di daerah Bendung Gerak Serayu.

Bila kita ingin serius mengamati Elang ular-bido di bukit Gunung Bunder, pastikan jam 10 pagi kita sudah tiba disana.  Karena biasanya di sekitar jam tersebut si elang mulai kelihatan soaring sambil bersuara melengking.  Jika belum terlihat maka perhatikanlah pohon2 besar di lereng bukit gn Bunder, mungkin saja Elang yang bersangkutan sedang santai bertengger sambil sesekali melengking suaranya bersahutan dengan pasangannya di pohon lain.   Pernah juga dia bertengger di pohon albasia yang ditanam di lahan daerah itu. Hal ini menunjukkan, walaupun lahan hutan sudah berubah menjadi pohon perkebunan kayu, tetap saja dibutuhkan blok hutan alami (seperti bukit gn Bunder ini) di dekatnya sebagai tempat pohon sarang dan habitat aslinya.

3. Elang Jawa ( Spizaetus bartelsii / Javan Hawk - eagle ), Stresemann, 1924
Burung berukuran sedang ( 60cm ), sangat terkenal akan kelangkaannya. Pada masa orde baru dijadikan sebagai lambang negara Indonesia. Terlihat tampan dan gagah namun sebenarnya pengecut dan sangat mudah dikalahkan oleh elang jenis lain. Menempati hutan primer dan hutan skunder paa ketinggian 300mdpl. Sesuai namanya, endemik di Jawa.
Banyak orang mengira bahwa burung Garuda adalah spesies burung tersendiri. Sebenarnya, Elang Jawa adalah si garuda itu sendiri. Dengan kata lain, Garuda, lambang negara yang kita bangga - banggakan selama ini adalah sejenis Elang bernama Elang Jawa.

Ciri Khas
Sayap membulat dan menekuk sedikit ke atas ketika soaring. Kepala tidak terlalu kecil, proporsional dengan ekornya yang agak lebih panjang dari Elang brontok. Jambul khas di kepalanya terlihat saat hinggap. Warna dominan coklat merah, dada berwarna putih bercoret melintang pada burung dewasa dan  cokelat polos pada burung muda. Beberapa ahli sering menyebutnya Nizaetus bartelsii.

Kebiasaan
Terbang soaring atau gliding di atas tajuk untuk berburu. Sangat jarang bersuara, sangat pendiam dan anggun ketika terbang. Memangsa tikus, kadal, tupai, bajing, ayam hutan dan hewan - hewan kecil lainnya.

4. Elang Brontok ( Spizaetus cirrhatus / Changeable Hawk - eagle ), Gmelin, 1788
Burung berukurans edang ( 60cm ), sangat mirip dengan Elang Jawa. Sesuai namanya, memilki dua fase yakni fase gelap dan fase terang. Lebih tersebar luas dari saudaranya dan menempati habitat yang lebih beraneka - ragam. Memiliki banyak ras dan banyak bentuk, ada yang berjambul, ada yang tidak. Ada yang bilang nama virus brontok terinspirasi dari nama burung ini.
Beberapa ahli memasukkannya dalam genus Nizaetus, ada juga yang menyendirikan ras S. cirrhatus limnaetus menjadi ras tersendiri.

Elang brontok adalah sejenis burung pemangsa anggota suku Accipitridae. Dinamai demikian kemungkinan karena warnanya yang berbercak-bercak. Namanya dalam bahasa Inggris adalah Changeable Hawk-eagle karena warnanya yang sangat bervariasi dan berubah-ubah, sedangkan nama ilmiahnya yalah Spizaetus cirrhatus. Wikipedia
Nama ilmiah: Nisaetus cirrhatus
Tingkatan takson: Spesies
Spesies: S. cirrhatus
Klasifikasi lebih tinggi: Nisaetus
Famili: Accipitridae

Kebiasaan
Sayap membulat dan menekuk sedikit ke atas, mirip dengan saudaranya Elang Jawa. Bedanya, ekor yang agak lebih pendek, dua spot terang di sayap serta garis vertikal di bagian dada pada fase terang.
Fase terang: Bagian bawah putih bercorak vertikal hitam mirip Elang hitam muda dan Elang Jawa. Bagian atas coklat pucat.
Fase peralihan: Bagian bawah keabu - abuan, bagian atas sama dengan fase terang.
Fase gelap: Berwarna hitam pekat mirip Elang Hitam dewasa, tapi tidak memiliki warna kuning di paruhnya.

Dalam bahasa inggris elang ini disebut dengan nama changeable hawk-eagle karena warna bulunya yang dapat berubah-ubah. Bulu elang brontok dibedakan menjadi fase gelap, fase terang, dan fase peralihan. Burung jantan dan betina memiliki warna yang hampir serupa, hanya burung betina biasanya memiliki ukuran tubuh yang lebih besar.

Saat fase gelap seluruh tubuh coklat gelap dengan garis hitam pada ujung ekor, terlihat kontras dengan bagian ekor lain yang coklat dan lebih terang. Fase terang ditandai dengan tubuh bagian atas coklat abu-abu gelap, tubuh bagian bawah putih bercoret-coret coklat kehitaman memanjang. Bentuk peralihan terlihat seperti fase terang namun dengan lebih banyak coret-coret kehitaman pada tubuh.

elang brontok fase gelap
Elang brontok fase gelap


5. Elang Laut Perut Putih ( Halieestus leucogaster / White - bellied sea Eagle ) Gmelin, 1788
Elang yang sangat spektakuler, berukuran sangat besar ( 70 - 85 cm ).  Dengan ukurannya bisa dibilang sebagai raja lautan. Tersebar di pesisir pantai dan terkadang masuk ke hutan dataran rendah. Ada catatan hidup di dataran tinggi.

Elang-laut dada-putih dengan nama latin Haliaeetus leucogaster dijuluki "mesin terbang" hidup yang paling mengesankan di bumi ini, dan julukan itu bukannya tanpa alasan. Dengan bentangan sayap sepanjang tiga meter, burung laut terbesar ini sanggup terbang hingga kecepatan 115 kilometer per jam. Wikipedia
Nama ilmiah: Haliaeetus leucogaster
Famili: Accipitridae
Massa: 2,8 kg Encyclopedia of Life
Status konservasi: Risiko Rendah (Menurun) Encyclopedia of Life
Tingkatan takson: Spesies

Ciri Khas
Ukuran yang sangat besar, sayap kokoh panjang dan lebar, kepala panjang serta ekor sangat pendek membentuk baji. Warna dominan putih, sayap membentuk pola hitam bagian atas dan hitam - putih di bagian bawah. Juvenile: warna putih digantikan warna coklat agak pucat.

Kebiasaan
Terbang rendah di atas air lalu menyambar mangsanya, berupa ikan atau terkadang burung lain. Bersura nyaring “ah..ah””

Makananya cukup bervariasi, namun tidak semua jenis makanan dimakan oleh jenis ini. Makanan kesukaanya adalah jenis ular laut kura-kura dan anak penyu laut. Burung-burung air seperti penggunting laut, petrel, camar,cikalang, pecuk dan cangak. Jenis mamalia yang dimakan biasanya jenis pengerat domestik pada umumnya seperti tikus.
Musim kawin pada Elang Laut di Pulau Kalimantan dan Asia Tenggara antara bulan Januari-Juni. Di Jawa dan Sulawesi musim kawin biasanya terjadi pada bulan Mei-Oktober. Di Jawa, di Kepulauan Seribu, musim kawin dan berbiaknya adalah bulan Mei-Oktober.

Ketika memasuki musim kawin, pasangan elang laut akan membuat sarang pada pohon yang tinggi di antara pohon-pohon yang lain. Material sarang biasanya terdiri dari ranting-ranting kayu yang kering, dedaunan dam kadang rumput laut. Sarang berukuran besar dengan lebar sekitar 1meter dan panjang bisa mencapai 1,65meter. Jika digunakan terus menerus, sarang bisa mencapai tinggi sekitar 2-3meter.

Jumlah telur yang dihasilkan rata-rata 2-3 telur. Jika kondisi berbiaknya bagus semua telur bisa di tetaskan.

Elang laut adalah jenis yang teretorial. Mereka akan menjaga daerah sarangnya dari ancaman predator maupun manusia. Daerah jelajah ketika sedang musim kawin biasanya akan lebih di persempit. Di kepulauan seribu sepasang elang laut yang berbiak diperkirakan daerah jelajahnya sekitar 13,39km.


6. Elang Tiram ( Pandion halieestus / Osprey ) Linneus, 1758.
Burung berukuran sedang ( 60cm ). Tidak termasuk dalam family acciptridae, tapi dipisahkan dalam family tersendiri yaitu Pandinidae. Sayangnya dalam Bahasa Indonesia namanya tetap disebut “Elang”.  Tersebar di pesisir pantai.

Elang tiram atau Elang ikan, yang dalam nama ilmiahnya Pandion haliaetus adalah salah satu-satunya spesies dalam suku Pandionidae dan genus Pandion. Wikipedia
Nama ilmiah: Pandion haliaetus
Famili: Pandionidae; Sclater & Salvin, 1873
Massa: 1,4 kg (Dewasa) Encyclopedia of Life
Panjang: 50 – 65 cm (Dewasa)
Klasifikasi lebih tinggi: Pandion
Tingkatan takson: Spesies

Ciri Khas
Warna hitam - putih yang mencolok, topeng berwarna hitam serta bentuk sayap yang khas, panjang dan agak meruncing.

Kebiasaan
Terbang menangkap mangsa di air atau di udara. Suka bertengger di tiang - tiang dermaga atau di atas kapal.

Selain memangsa ikan, elang ini ternyata juga dikenal sebagai pemangsa tikus dan kelinci. Burung yang bersarang di sekitar air, di tepi danau, tepi laut, sungai, rawa dan habitat air lainnya, di mana ikan-ikan tersedia di dekat permukaan air, menyergap mangsanya dengan memanfaatkan kekuatan cakarnya. Elang ini mempunyai tingkat kecepatan terbang naik turun yang sangat tinggi untuk menyergap mangsanya, yaitu sampai dengan ketinggian 40 m. Sebagai burung elang, biasanya burung ini makan sendirian. Namun, biasanya juga berkelompok jika terdapat banyak ikan. Sarang burung Elang Tiram dibuat dari dahan kayu di atas pohon. Betina biasanya menetaskan tiga butir telur. Hampir semua pasangan biasanya monogami, walaupun ada beberapa pasang burung Elang Tiram yang poligami.
Di kawasan konservasi Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, wilayah yang seharusnya menjadi habitatnya adalah Taman Wisata Alam Danau Matano, Danau Towuti, dan Danau Mahalona yang tinggal di pohon sekitar daratan danau dan rawa. Namun, berdasarkan pengamatan di ketiga kawasan tersebut, baru ditemukan di sekitar wilayah perairan Danau Towuti, yaitu di muara sungai Larona dan muara sungai Mahalona (antara Danau Towuti dan Danau Mahalona). Di muara sungai Larona, elang ini hanya ditemukan sepasang dengan sangkar yang terbuat dari dahan yang terdapat di pohon bagian atas. Sedangkan di muara sungai Mahalona (antara Danau Towuti dan Danau Mahalona) hanya ditemukan  1 (satu) ekor. Sedangkan di Danau Matano, jenis elang ini mungkin bisa ditemukan di pepohonan di atas tebing danau yang terletak tidak jauh dari dermaga Soroako menuju Desa Matano.
Jenis satwa ini termasuk satwa yang dilindungi, jadi tidak bisa diperjualbelikan dan dipelihara secara bebas mengingat secara keseluruhan di wilayah Indonesia populasi dan habitatnya sudah sangat berkurang. Berdasarkan IUCN Red List, Elang Tiram mempunyai status konservasi Least Concern (Resiko Rendah) dan CITES (Convention on International Trade of Endangered Fauna and Flora / Konvensi tentang Perdagangan International Satwa dan Tumbuhan) memasukkannya dalam daftar Apendiks II. Mengingat kondisinya saat ini yang sudah berkurang, perlakuan untuk mengembalikan populasi dan habitat jenis burung ini sangat dianjurkan sebelum kondisinya berada pada tahap bahaya yang nantinya akan punah.


7. Elang Ular Jari Pendek. ( Circaetus gallicus / Short - toed Snake - eagle ) Gmelin, 1788
Berukuran besar ( 65 cm ), kekar dan pucat.  Dalam Buku “Panduan Lapangan: Burung di Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Bali” oleh McKinnon dijelaskan burung ini adalah pengunjung musim dingin yang langka, sangat jarang terlihat. Pertemuan terbanyak ada di TN. Baluran di Situbondo, Jawa Timur.
Ciri Khas
Tubuh kekar, bagian atas coklat keabu - abuan, bagian bawah putih dengan coretan gelap, tenggorokan dan dada coklat. Terdapat garis - garis melintang yang samar pada perut dan empat garis melintang yang samar pada ekor. Remaja berwarna lebih pucat dari dewasa. Pada waktu terbang, sayap terlihat lebar dan panjang, dengan garis panjang mencolok pada penutup sayap dan bulu terbang. Iris kuning, paruh hitam dengan sera abu - abu, kaki kehijauan.

Kebiasaan
Menghuni pinggir hutan dan semak sekunder. Terbang melingkar dan meluncur dengan sayap yang cibentangkan lurus dan datar. Seperti alap - alap raksasa, sering melayang - layang diam sambil mengepakkan sayapnya. 

8. Elang Tikus ( Elanus caeraleus / Black - winged Kite ) Desfontaines, 1789
Berukuran sedang ( 30 - 45cm ) dengan cara terbang yang unik. Sekilas mirip dengan alap - alap, namun sayapnya lebih membulat dan warna matanya yang terang. Tersebar di dataran rendah dan perbukitan hingga ketinggian 2000mdpl. Termasuk dalam golongan “kite” yang berarti suka melakukan terbang hovering yang jarang bisa dilakukan oleh jenis lainnya.
Ciri Khas
Memiliki bercak hitam pada bahu, bulu primer hitam panjang khas. Dewasa: warna mahkota, punggung, sayap pelindung, dan bagian pangkal ekor abu - abu; muka, leher, dan bagian bawah putih. Remaja: bercorak warna coklat. Pada saat mencari mangsa, suka melayang - layang diam sambil mengepak - ngepakkan sayap. Iris merah, paruh hitam dengan sera kuning, serta kaki kuning. Iris merah, paruh hitam dengan sera kuning, kaki kuning.

Kebiasaan
Bertengger pada pohon mati atau tiang telepon. Melayang - layang di atas mangsanya seperti diuraikan di atas. Suka berburu di daerah yang kering terbuka dengan pohon yang terpencar - pencar. Memangsa Belalang, ular, tikus atau burung yang masih muda. 

9. Elang Bondhol ( Haliastur indus / Brahminy Kite ) Boddaert, 1783
Berukuran sedang ( 45cm ). Cukup terkenal sebagai maskot kota Jakarta, walaupun populasinya sangat mengenaskan di kotanya. Anda bisa mengenalinya dengan melihat logo busway. Sekilas mirip dengan Elang Botak dari Amerika, tapi ukurannya jelas jauh lebih kecil. Termasuk dalam golongan “Kite” yang berarti memilki keahlian terbang hovering yang jarang dimilki jenis lainnya.
Ciri Khas
Berukuran sedang ( 45 cm ), berwarna putih dan coklat pirang. Dewasa: kepala, leher, dan dada putih; sayap, punggung, ekor, dan perut coklat terang, terlihat kontras dengan bulu primer yang hitam. Seluruh tubuh renaja kecoklatan dengan coretan pada dada.

Warna berubah menjadi putih keabu - abuan pada tahun kedua, dan mencapai bulu dewasa sepenuhnya pada tahun ketiga. Perbedaan antara burung muda dengan Elang Paria pada ujung ekor membulat dan bukannya menggarpu. Iris coklat, paruh dan sera abu - abu kehijauan, tungkai dan kaki kuning suram.

Kebiasaan 
Biasanya sendirian, tetapi di daerah yang makanannya melimpah dapat membentuk kelompok sampai 35 individu. Ketika berada di sekitar sarang, sesekali memperlihatkan perilaku terbang naik dengan cepat diselingi gerakan menggantung di udara, kemudian menukik tajam dengan sayap terlipat dan dilakukan secara berulang - ulang.

Terbang rendah di atas permukaan air untuk berburu makanan, tetapi terkadang juga menunggu mangsa sambil bertengger di pohon dekat perairan, dan sesekali terlihat berjalan di permukaan tanah mencari semut dan rayap. Menyerang burung camar, dara laut, burung air besar, dan burung pemangsa lain yang lebih kecil untuk mencuri makanan.

Makanannya sangat bervariasi. Di perairan diantaranya memakan kepiting, udang, dan ikan; juga memakan sampah dan ikan sisa tangkapan nelayan. Di daratan memangsa burung, anak ayam, serangga, dan mamalia kecil.
Ciri Khas
Warna dewasa, tubuh bagian atas abu-abu biru dengan ujung putih yang jarang pada bulu punggung dan garis - garis melintang samar pada bulu ekor terluar. Tubuh bagian bawah putih terdapat sapuan merah karat yang samar pada dada dan sisi tubuh dengan sedikit garis abu - abu pada paha.

Sayap bawahnya sangat khas seluruhnya terlihat putih kecuali ujung bulu primer yang hitam. Remaja tubuh bagian atas coklat, tubuh bagian bawah putih terdapat garis - garis gelap pada ekor, coretan pada tenggorokan serta garis-garis pada dada dan paha. Paruh abu - abu dengan ujung hitam , sera dan kaki jingga, iris merah atau coklat.

Kebiasaan
Mengunjungi daerah terbuka sampai pada ketinggian 900 mdpl pada musim dingin di seluruh Sunda Besar. Setiap Oktober melewati Puncak ( Bogor ) dan Bali Barat dalam jumlah besar. Biasanya berburu di tenggeran, tetapi kadang - kadang terbang melingkar di atas, dan menerkam mangsanya dari tanah. 

11. Elang Alap Jepang ( Accipiter gularis / Japanese Sparrowhawk ) Temminck And Schlegel, 1844
Raptor migrant dari belahan Bumi utara, bertamu ke Indonesia bulan September - Desember. Burung yang cukup atraktif, lebih gesit dan lebih lincah dari 2 saudara kembarnya Elang - alap besra dan Elang - alap Jambul. Ukurannya juga paling kecil ( 27 cm ) dibandingkan 2 saudaranya. Sering juga disebut Elang - alap Nippon.
Ciri Khas
Jantan dewasa: tubuh bagian atas abu - abu, ekor abu - abu dengan beberapa garis melingkar gelap, dada dan perut merah karat pucat dengan setrip hitam sangat tipis di tengah dagu, setrip kumis tidak jelas. Betina: tubuh bagian atas coklat ( bukan abu - abu ), bagian bawah tanpa warna karat, bergaris - garis coklat melintang rapat. Dada remaja: lebih banyak coretan daripada garis - garis melintang dan lebih merah karat. Iris kuning sampai merah, paruh biru abu - abu dengan ujung hitam, sera dan kaki kuning - hijau.

Kebiasaan
Berburu di sepanjang pinggir hutan, di atas hutan sekunder, dan daerah terbuka. Biasanya berburu dari tenggeran di pohon, tetapi kadang - kadang terbang berputar - putar untuk mengamati tanah di bawahnya dengan cara terbang “kepak - kepak - luncur” yang khas. Menyerang dengan agresif pendatang yang mendekati sarang. 

12. Elang Alap Besra ( Accipiter virgatus / Besra ) Temminck, 1822
Burung berukuran sedang, sangat mirip dengan Elang - alap Jepang kecuali ukurannya yang lebih besar. Berbeda dengan saudaranya, Elang - alap Besra adalah reptor penetap yang jarang dijumpai di Pulau Jawa.
Ciri Khas
Berukuran sedang ( 33 cm ) mirip Elang Alap Jambul tetapi lebih kecil dan tanpa jambul. Warna jantan dewasa, tubuh bagian atas abu - abu gelap dengan ekor bergaris tebal, tubuh bagian bawah putih dengan garis melintang coklat dan sisi tubuh merah karat, tenggorakan putih dengan strip hitam di tengah, strip kumis hitam.

Kebiasaan
Duduk tenang di hutan menunggu mangsanya. Sering terlihat bertengger di pohon mati yang tinggi di hutan. Terbang mengitari teretori secara reguler.

13. Elang Alap Jambul ( Accipiter trivirgatus / Crested Goshawk ) Temminck, 1824
Burung ketiga yang kembar dengan Elang - alap Besra dan Elang - alap Jepang. Ukurannya paling besar  diantara 2 saudaranya ( 40cm ), selain itu dia juga berjambul yang terlihat ketika bertengger.
Ciri Khas
Tubuh tegap dengan jambul yang jelas. Jantan dewasa : tubuh bagian atas coklat abu - abu dengan garis - garis pada sayap dan ekor, tubuh bagian bawah merah karat, dada bercoretan hitam, ada garis - garis tebal hitam melintang pada perut dan paha yang putih.

Lehernya putih dengan setrip hitam menurun ke arah tenggorokan dan ada dua setrip kumis.Remaja dan betina : seperti jantan dewasa, tetapi coretan dan garis - garis melintang pada tubuh bagian bawah berwarna coklat serta tubuh bagian atas coklat lebih pucat.

Kebiasaan
Berburu di tenggeran yang rendah di laut. Selalu tinggal di hutan lebat. Pada waktu berbiak kadang - kadang memperlihatkan cara terbang yang khas, yaitu getaran sayap ( bulu putih pada sisi tubuhnya terlihat jelas ) berselang dengan luncuran pendek dalam lingkaran yang sempit. 

14. Elang Ikan Kepala Abu ( Ichthyophaga ichthyaetus / Grey-headed Fish Eagle ) Horsefield, 1821
Berukuran besar ( 70 cm ), jarang terlihat. Di Jawa hanya tersebar di kawasan Jawa Barat, pernah tercatat di Jawa Timur tapi belum ada catatan baru.
 Ciri Khas
Sayap membulat, berbeda dengan Elang - laut Perut - putih yang kokoh. Berwarna abu - abu, coklat, dan putih. Dewasa: kepala dan leher abu - abu, dada coklat; sayap dan punggung coklat gelap; perut, paha, dan pangkal ekor putih; ujung ekor bergaris lebar hitam. Remaja: bagian atas coklat kekuningan, bagian bawah bercoret coklat dan putih; ekor coklat mengkilap dengan ujung bergaris hitam. Ekor pendek. Iris coklat sampai kuning, paruh dan sera abu - abu, tungkai tanpa bulu, dan kaki putih sampai kuning.

Kebiasaan
Sering mengunjungi daerah perairan, sungai danau, dan paya di hutan dataran rendah. Menukik menerkam ikan ketika terbang atau dari posisi bertengger di pohon. Jarang terbang melayang - layang

15. Elang Perut Karat ( Hieraaetus kienerii/ Rufous - bellied Eagle ) Geoggroy Saint Hilaire, 1835
Berukuran agak kecil, tersebar di hutan pegunungan. Jarang terlihat di Pulau Jawa, namun penghuni tetap sampai ketinggian 1500 mdpl. Jambulnya cukup unik ya?
Ciri Khas
Berwarna coklat kemerahan, hitam, dan putih, dengan jambul pendek. Dewasa: mahkota, pipi, dan tubuh bagian bawah kehitaman; ekor coklat dengan garis hitam tebal dan ujung putih. Dagu, tenggorokan, dan dada putih bercoret hitam; sisi tubuh, perut, paha, dan bagian bawah ekor coklat kemerahan dengan coretan hitam perut.

Pada waktu terbang terlihat bercak bulat yang pucat pada pangkal bulu primer. Remaja: tubuh bagian atas coklat kehitaman dengan bercak kehitaman pada mata. Alis dan tubuh bagian bawah keputih - putihan. Iris merah, paruh kehitaman, sera dan kaki kuning. 

Kebiasaan
Mendiami kawasan hutan di pinggir hutan, terlihat berputar - putar atau meluncur rendah di atas pohon. Terbang mengitari teretori, menyerang secara cepat mangsa di permukaan tanah atau di tajuk pohon, mirip dengan Peregrine Falcon.

16. Sikep Madu Asia ( Pernis ptilorhynchus / Oriental Honey Buzzard ) Temnick, 1821
Si burung lucu dari Bumi belahan utara. mengunjungi Indonesia pada bulan September - Desember, namun ada juga catatan ras penetap di Pulau Jawa. Berukuran sedang ( 60cm ) dengan kepala yang kecil da panjang, ciri khas Buzzard. Sering terjadi konflik antara burung ini dengan elang - elang penetap seperti Elang Hitam.
Ciri Khas
Kepala kecil dan panjang, ekor sering membentuk kipas. Berwarna hitam dengan jambul kecil. Warna sangat bervariasi dalam bentuk terang, normal, dan gelap dari dua ras yang berbeda yang masing - masing meniru jenis elang berbeda dalam pola warna bulu.

Terdapat garis - garis yang tidak teratur pada ekor. Semua bentuk mempunyai tnggorokan berbercak pucat kontras, dibatasi oleh garis tebal hitam,sering dengan garis hitam mesial. Ciri khas ketika terbang: kepala relatif kecil, leher agak panjang menyempit, ekor berpola. Iris jingga, paruh abu - abu, kaki kuning, bulu berbentuk sisik ( terlihat jelas pada jarak dekat ).

Kebiasaan
Sering mengunjungi hutan pegunungan. Ciri sewaktu terbang adalah beberapa kepakan dalam yang diikuti luncuran panjang. Melayang tinggi di udara dengan sayap datar. Mempunyai kebiasaan aneh yaitu merampas sarang tawon dan lebah sesuai namanya. Dia juga sering memakan serangga.

Berikut ini 16 spesies burung elang yang memiliki wilayah persebaran di Pulau Jawa:

  • Elang jawa / javan hawk-eagle ( Spizaetus bartelsii )


  • Elang brontok / changeable hawk-eagle ( Spizaetus cirrhatus )


  • Elang bondol / brahminy kite Haliastur indus )


  • Elang ular-bido / crested sherpent-eagle ( Spilornis cheela )
    1. Elang hitam / indiana black eagle ( Ictinaetus malayensis )
    2. Elang laut perut-putih / white-bellied sea eagle Halieestus leucogaster )
    3. Elang tiram / osprey ( Pandion halieestus )
    4. Elang ular jari-pendek / short-toed snake-eagle  ( Circaetus gallicus)
    5. Elang tikus / black-winged kite ( Elanus caeraleus )
    6. Elang alap china / chinese goshwak ( Accipiter soloensis )
    7. Elang alap jepang / japanese sparrowhawk ( Accipiter gularis )
    8. Elang alap besra ( Accipiter virgatus )
    9. Elang alap jambul / crested goshawk ( Accipiter trivirgatus )
    10. Elang ikan kepala-abu / grey-headed fish eagle Ichthyophaga ichthyaetus )
    11. Elang perut-karat / rufous-bellied eagle ( Hieraaetus kienerii )
    12. Sikep madu asia / oriental honey buzzard Pernis ptilorhynchus)

    Untuk mengetahui karakteristik masing-masing jenis burung elang tersebut, termasuk suaranya, klik saja salah satu tautan / link di atas.

    loading...

    Blog, Updated at: 23:08:00
    loading...